Tuesday, September 5, 2006

Aku.. Hari Ini!

Mungkin aku hanya merasa tidak nyaman. Saat ini. Tapi aku serasa ingin menghilang. Ingin sendiri. Aku ingin kembali pada zona amanku. Aku bosan mencari, dan aku sendiri tidak tau apa yang aku cari. Bukan jati diri. Mungkin lebih kepada tempat yang bisa menerima aku dan sejuta mimpiku apa adanya.

Aku merindu. Aku ingin menjadi diriku 20 tahun lalu. Nyaman. Tanpa beban. Mungkin sudah menjadi aku hanya saja belum dengan sejuta mimpiku.

Aku tersesat. Dan aku merasa jauh dari dunia yang aku ingin. Aku pikir ini adalah satu dari sejuta mimpi milikku, tapi ternyata ini hanya igauan biasa disiang hari. Aku tidak ingin tercebur lebih dalam, aku ingin menepi.

Aku lelah.. I'm 24 and i'm not feeling happy! Jangan kasihani diriku. Mungkin ini memang proses pendewasaan diri yang harus aku lalui. Mungkin seandainya Tuhan selalu kasih apa yang aku ingin, bisa jadi aku tidak pernah menghargai hidup yang sudah dititipkan Tuhan untuk aku yang sebenarnya indah ini jika aku mampu melihat lebih dalam.

PS : Maaf Tuhan, sudah mengira Tuhan melupakan aku.

5 September 2006

Tuesday, August 15, 2006

Khayalan Kamar Mandi

Hari ini seperti hari-hari yang lain, bukan berarti aku membenci hari-hariku – tetapi mungkin aku memang tidak berada di waktu dan tempat yang tepat. Pagi ini dimulai dengan kegelisahan yang sebenarnya sudah bisa aku rasakan di malam-malam sebelumnya. Bukan lalu aku menjadi tidak produktif, tetapi justru menghasilkan beberapa tulisan pesimistik yang mungkin suatu saat akan membantuku mencapai tujuan akhirku. Entah kapan, dan dimana.

Ketidakjelasan yang akhir-akhir ini selalu menemani aku melangkahkan kaki menjadi semakin tidak jelas. Bukan secara nyata, karena aku tetap berada di bumi, tetap menjalankan hari-hariku dan tetap mendapatkan upahku setiap bulan – yang bukan dari hasil kerja kerasku karena aku tidak mengikutsertakan seluruh hati dan jiwaku. Mungkin lebih kearah ketidakpahaman akan hidup. Aku masih mencari-cari, masih mengais-ngais. Aku masih bermimpi. Dan mimpi-mimpiku itu tentang jalan-jalan yang sepertinya tidak pernah berujung.

Aku tidak pernah ingat kapan mulai terlintas diotakku, aku sering mengibaratkan diriku sendiri seperti seonggok kapas yang pernah tercebur kedalam air entah untuk berapa lama yang kemudian dijemur dipaparan sinar matahari jakarta. Kerontang. Tanpa nyawa. Kosong dan terombang-ambing tanpa tujuan yang tertulis.

Aku seperti merasa kehilangan sebagian dari jiwaku. Padahal bahkan akupun tidak pernah tau apakah aku pernah memilikinya atau tidak. Karena selama ini yang aku jalani bukan murni keinginan diri. Hanya mengarah pada satu tujuan, tanpa peduli aku suka atau tidak. Bukannya lalu aku menjadi sarkastik dan kemudian mempertanyakan eksistensi Tuhan didalam kehidupan yang menurutku lumayan nyata ini. Bukan demikian.

Mungkin memang apa yang aku jalani selama ini telah memiliki skenario tingkat tinggi. Walau aku harus terus memainkan semua peranku, tapi jujur – aku tidak pernah sekalipun diberikan kesempatan untuk mempelajari semua peran yang aku mainkan. Apalagi untuk memilih. Padahal kehidupan yang mahaluas ini terlalu indah untuk hanya dinikmati melalui satu peran yang sama dalam kurun waktu yang pastinya tidak bisa dibilang singkat.

Seandainya aku dilahirkan lagipun, aku tetap tidak tau ingin dilahirkan sebagai apa. Pernah terpikir ingin menjadi burung. Terbang lepas. Tinggi hampir menyentuh awan. Dan tentunya bebas menentukan pilihan. Tapi aku masih terlalu takut untuk menentukan semuanya sendiri. Bagaimana kalau aku ternyata terbang terlalu jauh, atau bahkan aku terbang terlalu tinggi. Lalu aku kemudian memilih untuk menjadi diriku lagi. Tentunya dengan beberapa tujuan yang dapat aku pilih sesuai keinginan diri. Seperti khayalanku pagi ini yang tidak mungkin terwujud untuk kembali ketempat tidur mengenakan selimut hangat dan bantal empuk setelah selesai melakukan ritual mandiku yang menurutku monoton setiap hari.

Kantorku, 15 Agustus 2006 – Stuck!! Tanpa tujuan yang berarti..

Thursday, July 13, 2006

Ini Aku dan Sejuta Mimpiku

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang bagaimana menaklukan dunia. Mimpi yang sama tentang menggapai beribu bintang. Tentang seberapa dalam samudra yang bisa aku selami. Dan tentang seberapa ketinggian yang bisa kudaki.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi-mimpi indah yang sirna seiring dengan munculnya tetesan embun. Mimpi tentang bagaimana aku bisa mengatakan kepadamu. Mimpi tentang bagaimana waktu bisa diputar kembali. Dan aku dilahirkan lagi. Tentu saja dengan label yang berbeda. Yang sama denganmu.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang seberapa jauh pelosok-pelosok bumi yang bisa kucapai. Mimpi tentang jalan-jalan berliku yang akan mengarahkanku mewujudkannya jadi nyata.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi-mimpi tentang membentangkan semuanya dihadapanku. Mimpi tentang kesunyian. Kedamaian. Keabadian. Dan tentu saja, mimpi tentang kemurkaan dan amarah diri. Mimpi tentang angin yang akan membawaku terbang bersama daun-daun kering. Mimpi tentang hujan yang turun menghapus dahaga jiwa. Dan mimpi tentang kobaran api yang membakar hati. Mimpi-mimpi yang sama tentang keinginan untuk bertemu dengan Tuhan.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang keberanianku mempertanyakan Tuhan. Pemilik roh jiwa yang mengaliri tubuh ini. Penciptaku. Penciptamu. Dan jutaan yang lain.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang kepedihan hati. Kesendirian. Tapi bukan mimpi tentang penyesalan. Mimpi tentang dahan-dahan yang bercabang. Mimpi tentang bagaimana dahan-dahan itu berusaha mengapai awan.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang bagaimana aku bisa menceritakan kepadamu. Mimpi tentang ruang kosong jauh di dasar hatiku. Ruang kosong yang mulai terisi dengan kehadiran mimpi-mimpi tentangmu. Tentang raga dan jiwamu. Mimpi tentang segenggam kehangatan yang akan kembali terasa dingin ketika aku terbangun. Mimpi yang sama ketika aku pertama kali melihatmu.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang memeluk keabadian. Semu. Mimpi tentang keabadian yang tak pernah ada. Mimpi tentang kodrati manusia yang tidak abadi. Mimpi tentang bagaimana mengkotori jiwa. Lalu mensucikannya. Kemudian mengkotorinya lagi. Mimpi-mimpi yang sama berulang-ulang.

Ini aku dan sejuta mimpiku. Mimpi tentang bagaimana membekukan dunia. Dengan cara yang aku bisa. Tentu saja mimpi itu denganmu. Mimpi tentang belajar bagaimana membekukan dunia. Menghentikan detik waktu. Denganmu.

Monday, December 19, 2005

Puisi Ulang Tahun

Bukan peluk mesra
Hanya ucapan selamat pagi 
Bahkan tanpa janji kesetiaan 
Tapi abadi sampai akhir 
Bukan puisi indah 
Hanya segenggam rasa sayang 
Dan cinta tanpa batas 
Sekarang dan selamanya 

Ulang tahunku, Desember 2005 
“masih di kotak yang sama”

Sunday, November 13, 2005

Mawar, Bunga Matahari dan Bidadari

Aku bukan mawar yang kemudian menjadi benalu
Mungkin aku seperti bunga matahari 
Hanya saja aku mencari cahaya pagi bukan dari timur
Dan aku ingin seperti benang sari 
Yang tertiup angin kesana-kemari
Tapi aku ingin lebih seperti kumbang 
Yang dapat terbang bebas di atas awan 
Atau aku ingin menjadi bidadari 
Yang terbiasa menghirup udara pagi 
Tapi aku lelah 
Aku hanya ingin mencari madu
Yang terasa lebih manis di dalam mimpiku

Nov 2005 – masih di dalam kotak

Sunday, May 11, 2003

Mimpi Terbang

Semalam aku mimpi terbang 
Aku bertemu burung 
Aku bertemu kumbang 
Aku juga bertemu kupu-kupu 
Tapi semalam aku tak hanya bermimpi terbang 
Aku bermimpi terbang sambil tertawa 
Aku bebas.. 
Lepas.. 
Bebas bersama burung yang bercerita 
Lepas bersama kumbang yang terbahak-bahak 
Dan kupu-kupu yang menari 
Aku hanya tertawa.. 
Semalam aku bermimpi terbang sambil tertawa 
Aku bahagia sampai menangis 
Aku menangis sambil tertawa 
Tapi.. aku tak mau hanya bermimpi  

Di kamar.. pagi-pagi dini hari Mei 2003 
“Aku pikir sayapku terbawa saat terbangun.. ternyata hanya air mata”