Ketidakjelasan yang akhir-akhir ini selalu
menemani aku melangkahkan kaki menjadi semakin tidak jelas. Bukan secara nyata,
karena aku tetap berada di bumi, tetap menjalankan hari-hariku dan tetap
mendapatkan upahku setiap bulan – yang bukan dari hasil kerja kerasku karena
aku tidak mengikutsertakan seluruh hati dan jiwaku. Mungkin lebih kearah
ketidakpahaman akan hidup. Aku masih mencari-cari, masih mengais-ngais. Aku
masih bermimpi. Dan mimpi-mimpiku itu tentang jalan-jalan yang sepertinya tidak
pernah berujung.
Aku tidak pernah ingat kapan mulai terlintas
diotakku, aku sering mengibaratkan diriku sendiri seperti seonggok kapas yang
pernah tercebur kedalam air entah untuk berapa lama yang kemudian dijemur
dipaparan sinar matahari jakarta. Kerontang. Tanpa nyawa. Kosong dan
terombang-ambing tanpa tujuan yang tertulis.
Aku seperti merasa kehilangan sebagian dari
jiwaku. Padahal bahkan akupun tidak pernah tau apakah aku pernah memilikinya
atau tidak. Karena selama ini yang aku jalani bukan murni keinginan diri. Hanya
mengarah pada satu tujuan, tanpa peduli aku suka atau tidak. Bukannya lalu aku
menjadi sarkastik dan kemudian mempertanyakan eksistensi Tuhan didalam
kehidupan yang menurutku lumayan nyata ini. Bukan demikian.
Mungkin memang apa yang aku jalani selama ini
telah memiliki skenario tingkat tinggi. Walau aku harus terus memainkan semua
peranku, tapi jujur – aku tidak pernah sekalipun diberikan kesempatan untuk
mempelajari semua peran yang aku mainkan. Apalagi untuk memilih. Padahal
kehidupan yang mahaluas ini terlalu indah untuk hanya dinikmati melalui satu
peran yang sama dalam kurun waktu yang pastinya tidak bisa dibilang singkat.
Seandainya aku dilahirkan lagipun, aku tetap tidak
tau ingin dilahirkan sebagai apa. Pernah terpikir ingin menjadi burung. Terbang
lepas. Tinggi hampir menyentuh awan. Dan tentunya bebas menentukan pilihan.
Tapi aku masih terlalu takut untuk menentukan semuanya sendiri. Bagaimana kalau
aku ternyata terbang terlalu jauh, atau bahkan aku terbang terlalu tinggi. Lalu
aku kemudian memilih untuk menjadi diriku lagi. Tentunya dengan beberapa tujuan
yang dapat aku pilih sesuai keinginan diri. Seperti khayalanku pagi ini yang
tidak mungkin terwujud untuk kembali ketempat tidur mengenakan selimut hangat
dan bantal empuk setelah selesai melakukan ritual mandiku yang menurutku
monoton setiap hari.
Kantorku,
15 Agustus 2006 – Stuck!! Tanpa tujuan yang berarti..
No comments:
Post a Comment